.: breakaway :.

“Hari” Privat Island

lanjut ceritaa…masih di kawasanKendari, Sulawesi Tenggara..

dengan bermodalkan kapal kantor dengan tugas perawatan kapal atau bahasa bekennya nyuci kapal..ahahaha kita ber-lebih dari 8 orang langsung tancap gas ke TKP

ini nih kenalin dulu biar akrab ama yang namanya Pulau Hari…pulau sejuta terumbu karang dan keindahan bawah dan atas laut #nahloooh…pulau yang gak ada penghuninyaa…eh ada ding kalo lagi ada yang numpang ngapain disana..hehe

okee awal mula perjalanan kita naik nih yang namanya kapal patroli bea cukai yang tadii ituu tuh yang mau dicuci kapalnya dari trumbu karangg…kapal patroli yang keren banget dah..kapal satu satunya yang ada di kantor..awal mulanya kita agak terlambat sih berangkatnya..sekitar jam 10an…mana ombak udah agak gedee,

ini nih foto foto miles away to hari privat island

hahaha ini beberapa foto yang diabadiin waktu perjalanan menuju ke pulau hari…kapalnya ukuran medium jadi lebih asik dan seger kalo di luar kapal gini nih…hehehe

sampai pulau harinyaa sekitar 45 menitan atauu sejam laah paling lamaa…yaah ini nih ekspresi ekspresii sampe sanaa..hahaha

yang awalnya nyebur bareng…


abis ituu pada gantian bersihin karang karang yang nempel di kapal ini…

hahaha gapapa lah yaa nangkring sejenak ambil foto ..sambil gantian giliran yang bersihin kapal…

okeedeh lanjut…sekarang kita kenalan nih sama alamnya pulau hari yang kebanyakan batu batu…tapi dipulau ini pasirnya pasir putih looh…kita liat dulu deh pulau hari dari atas nampak kayak beginian nih..hehe

kalo ini gambar dari bawah…

okee deh sekarang ke bagiaan yang amat sangat gabole ditinggalin sebelum melancong balik lagi ke kantor..hehehe

yaaap bener namanyaa snorkling…tanpa tabung oksigen pun jadi..ini dalamnya dari permukaan air laut gak sampe 2 meter looh..jadi deket deh ini dari permukaan air laut.. gak perlu tabung oksigen segala macem seperti diving gitu..

inilah indahnyaa pulau hari…kalau masalah biaya sampai pulau ini untuk pake speedboat aku gak ngerti deh berapa tapi paling mahal mungkin loh yaa 800 per-kapal

ini nih hilangin capek sambil nikmatin perjalanan pulang

cukuplaah sudah backpackeran buat postingan kali ini deh…kapan kapan lagi ak sambung dengan cerita sama pengalaman lain deh yaak„,

created by :

G. I. Hasan

Moramo Waterfall

hahaha ini dah saatnya cerita…disaat waktu luang yang mengasikkan selalu keselip koneksi internet yang super duper cepet ..

setelah sekian lama berkutat dengan kerjaan…akhirnya bisa juga buka tumblr yang udah gak lama kejamah dan sampai sampai udah berkarang…okedeeh ini nih pengalaman pengalaman gak akan pernah terlupa…

mulai sekarang deh hidup bukan hanya untuk bekerja tapi ber-backpacker-an..hahaha cekidot deh

sebenernya udah lamaa amat mau cerita tentang tempat satu ini yang sangat amat menjanjikan untuk dikunjungi…yaap didaerah amat sangat pedalaman dengan bagitu banyaknya transmigran di era 80’an…dan masih kental dengan orang jawa dan bali disekitar TKP ini…

ehh lupaa kenalin dulu nih…namanya air terjun Moramo di Kendari Sulawesi Tenggara tepatnya…air terjun yang terjun terjun #naahlooh saking banyak bebatuan si jadi mending dinamain air terjun yang lagi terjun terjun… ini nih penampakannyaa

eh eh bentar penampakannya…liat dulu deh awal mula perjalanan yang udah deket sama TKP

nih rintangan pertama deh yang mesti dilewatin kalo pengen kesana ituu tuh..mana kayunya udah lapuk tali besinya juga udah mau copot kayak jantungnya aja kayak mau copot lewat jalan ini nih..tapi pada nekat foto2 duluu…nyoba adrenalin kali yaak -___-a

abis ituu ini nih mesti lewatin lembah ama lereng lereng kayak ginian nih

disini mesti jalan duluu 30 menitan apa yaak…yaah itung aja kasaran paling lama 30 menit laah..tapi pas otw ke air terjunnya nemu kek ginian nih

lanjuuut…

kayak gitu tuh hutan belantaranyaa yang ngiringin perjalanan buat ke air terjun itu tuh…

abis lama perjalanan ternyata masih nemuin jembatan yang lebih parah deh dari yang tadii… kayak gini nih…kayunya udah lapuk..udah gituu gak ada tali besi atau entah apapun buat pengaman…katanya safety first yg ini nih adanya bahaya yang utama..hehe

hahaha lanjuut…abis itu gak lama kemudian…yaaah 15 menitan laah ketemuu ini nih

ini nih biar lebih jelasnyaa…

okee deh tambahan bonuss :p

trus ini nih

ini deh sebagian dari kita yang ikuuut…

gak nyesel deh sampai sini walopun total waktu yang mesti dihabiskan dari kantor ke TKP ini cuman 2,5 jamhahahaha

manteeb deh pokoknya pernah kesini….

oiyaa biaya yang dikeluarin murah loooh…cuman biaya parkir … enak kaaan?

padahaaaaal biaya parkir mobil @ Rp. 30.000,-

-____-a

udaah deh lanjutt ke cerita lain…hehehe

created by :

G. I. Hasan

“Ibu pinjamkan aku hatimu, biar aku paham, ketika engkau berbicara melalui air mata, apakah luka ataukah engkau bahagia.”
happy ied mubarak

seiring bertambahnya usia..cinta serta dosa dan pahala..

selalulah bersyukur bahwa manusia diciptakan dalam tingkatan yang paling sempurna..

hari demi hari serta waktu ke waktu hendaklah selalu menjadi instrospeksi diri untuk menjadi insan kamil..yang melakukan hal terbaik agar kita tenang ketika “dipanggil”…

hakikatnya cinta adalah pelengkap hidup terindah sepanjang masa..setiap insan tak akan luput dari maut dan rasa takut…

Taqoballallahu minna wa minkum, shiyamanaa wa shiyamakum, waja’alanallahu waiyyakum, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin..


“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” ?

kebanyakan orang mungkin sudah tau akan kisah anak kecil yang akan aku ceritakan ini..tapi disini dan sekarang bukan masalah tau atau pernah tapi sadarkah kita..

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah”. Itu, salah sebuah pepatah yang sangat popular. Sementara, di masyarakat, pepatah kerapkali diposisikan sebagai semacam ‘kalimat suci’, yang tak terbantahkan. Benarkah?

 

Jejak Bakti

Pepatah di atas menggambarkan bahwa kasih ibu kepada sang anak tak berbatas, laksana jalan yang tak berujung. Sementara, kasih anak kepada sang ibu berbatas, sebagaimana penggalah (tongkat).

Kisah berikut, bisa menjadi contoh bahwa pepatah di atas tak selalu benar. Situs www.islamedia.web.id 19/9/2011 memuat kisah nyata yang –sebenarnya- telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada 27/1/2006, seorang anak di China mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Di antara 9 peraih penghargaan itu, dia satu-satunya anak kecil dari 1,4 milyar penduduk China.

Apa prestasi Zhang Da (ZD), anak kecil itu? Sejak 2001, saat berusia 10 tahun, ZD ditinggal pergi ibunya. Sang ibu tak tahan hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Sejak itu ZD hidup dengan seorang ayah yang sakit, yang tak bisa berjalan dan bekerja.

Kondisi tersebut memaksa si bocah mengambil tanggung-jawab. ZD bersekolah dan mencari makan untuk ayah dan dirinya. Juga, memikirkan obat-obat yang tak murah. Sungguh, dia masih terlalu kecil menjalankan tanggung-jawab yang berat itu. Tapi, yang membuat ZD berbeda,  dia tak menyerah.

Ketika sadar bahwa hidup itu harus terus bergerak, diapun bertekad untuk memikul tanggung-jawab yang datang menyapanya lebih awal itu, yaitu meneruskan kehidupan sang ayah dan –tentu saja- dirinya sendiri.

ZD terus bersekolah. Dari rumah ke sekolah –dan sebaliknya-, ZD berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan itulah, ZD mulai memakan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang dia temui. Kadang juga dia menemukan sejenis jamur atau rumput, dan dia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu, dia tahu mana saja yang bisa dimakan.

Pulang sekolah, ZD bergabung dengan tukang batu. Dia belah batu-batu besar untuk memeroleh upah. Hasilnya, untuk membeli beras dan obat-obatan sang ayah. Hidup berat seperti itu dijalaninya selama 5 tahun. Badannya tetap sehat, segar, dan kuat.

Sejak berumur 10 tahun, ZD merawat ayahnya. Dia gendong ayahnya ke kamar mandi. Dia seka dan sekali-sekali memandikannya. Dia beli beras dan membuat bubur, juga untuk si ayah. Pendek kata, semua urusan ayahnya, dia kerjakan sepenuh tanggung-jawab dan kasih.

Obat mahal dan jauhnya tempat berobat membuat ZD berpikir untuk menemukan cara terbaik mengatasinya. Maka, sejak umur 10 tahun pula, dia mulai belajar tentang obat-obatan melalui buku bekas yang dia beli. ZD mencermati saat perawat menyuntik si ayah. Setelah dirasa mampu, dia beranikan diri menyuntik ayahnya sendiri. Itu, dikerjakannya sampai lima tahun kemudian. Di fragmen ini, ZD semakin tampak luar biasa.

Lalu, sampailah kisah ZD ke ‘atas’. ZD diputuskan pantas menerima penghargaan. Dia dinilai telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”.

Kini, lihatlah! ZD berada dalam suasana ‘resepsi’ penganugerahan penghargaan itu. Ketika itu, mata pejabat, pengusaha, artis, dan orang-orang terkenal yang hadir tertuju kepada ZD.

Sang pembawa acara (MC) bertanya, “ZD, sebut saja kamu mau apa. Misal, sekolah di mana? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Atau, apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu?”

Jika saatnya nanti kuliah, mau kuliah di mana? Sebut saja. Pokoknya, apa yang kamu idam-idamkan, sebut saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Kecuali itu, saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi. Mereka bisa membantumu!”

ZD terdiam. MC-pun berkata lagi, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.

Beberapa menit ZD masih diam. Lalu, dengan suara bergetar, ZD menjawab, “Saya mau ibu kembali. Ibu, kembalilah ke rumah. Saya bisa membantu ayah. Saya bisa mencari makan sendiri. Ibu, kembalilah!”

Semua yang hadir terkesima dan menitikkan air mata, terharu. Tak ada yang menyangka atas apa yang keluar dari lisannya itu. Mengapa ZD tidak meminta kemudahan pengobatan ayahnya? Mengapa dia tidak meminta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya? Mengapa dia tidak meminta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa dia tidak meminta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika dia membutuhkan, pasti semua akan membantunya? Demikian kira-kira pikiran yang ada di rata-rata orang yang hadir di acara itu.

‘Jejak’ Kesan

Membaca kisah di atas, mungkin ada yang refleks berkata: “ZD, engkau anak yang sangat membanggakan orang tua manapun. Izinkan saya memeluk dan mencium keningmu, Nak!”

Mungkin pula ada yang berefleksi: “Andai saya dalam posisi persis ZD, masih berumur 10 tahun saat menjalani ujian itu, bisakah saya seteguh dan sesabar ZD? Atau, ujian seperti itu datang ketika usia saya sudah 30, 40, atau 50 tahun dan hidup saya cukup mapan. Bisakah saya habis-habisan merawat ayah persis seperti ZD merawat ayahnya?”

Boleh jadi, ada pula yang spontan berdoa: “Yaa Allah, beri ZD hidayah-Mu, agar pengabdiannya kepada sang ayah punya nilai amal shalih di Hadapan-Mu. Beri ZD hidayah-Mu, agar setelah dia tunjukkan baktinya kepada sang ayah, diapun bisa sempurnakan baktinya kepada sang ibu. Maka, sempatkan dia yaa Allah untuk membaca riwayat ini: Datang seseorang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Siapa yang berhak aku layani secara istimewa?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Lalu, ditanya lagi: “Kemudian, siapa?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Masih ditanya lagi: “Lalu, siapa lagi?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Lantas, “Berikutnya, siapa pula?” Jawab Nabi SAW,”Ayahmu!” (HR Bukhari dan Muslim). Sempatkan pula ZD untuk bisa memahami ini: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula) (QS Al-Ahqaaf [46]: 15). 
Terakhir, bagaimana dengan kita? Kita yang sudah ratusan kali –bahkan mungkin lebih- membaca ayat dan hadits di atas? Mari, jawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Mari berdoa: “Yaa Allah, beri kami kemudahan dalam berbakti kepada kedua ibu-bapak kami ‘sepanjang jalan’ dan bukan hanya ‘sepenggalah’.

Kutipan Darwis Tere Liye

“Masakan paling enak adalah masakan yang saat kau mengunyahnya, kau mengeluarkan air mata. Kau menangis terharu karena memakannya.”

Saya pernah menulis kalimat itu di novel ‘Burlian’. Kalian pernah melihat seseorang yg berlinang air mata saat mengunyah makanan?

Maka tanyakanlah kepada sebuah keluarga kecil, yg hidup seadanya. Berminggu2, dua anak perempuan mereka, yg berusia 9 dan 13 tahun, selalu bilang ingin mencicipi sepiring kentang goreng dan sepotong ayam crispy di sebuah restoran fast food. Tiga bulan berlalu, keinginan itu tercapai. Si sulung menangis saat menghabiskan makanannya, karena dia tahu persis, orang tuanya yg hanya buruh kasar, menyisihkan begitu banyak keperluan lain demi kemewahan sekejap itu.

Bersyukurlah jika kita dilimpahi begitu banyak kelebihan. Tidak, tentu saja Tuhan tidak membutuhkan pujaan kita, berjuta kali kalimat terimakasih dr kita, itu tidak menambah keagungan Tuhan. Tapi bersyukur, akan sangat berguna bagi kita sendiri.